Ketika Cinta Berbicara dalam Senja
‘Selama cinta masih bisa berkata, selama cinta masih merasa, dan selama cinta masih ada... kau akan selalu hidup di hatiku...
Di atas pasir yang halus itu, cahaya matahari senja menghiasi langit. Merahnya membakar awan-awan jadi saga, dan bayang-bayang hitam di bawahnya. Angin yang bersemilir membelai segala yang ada dan menghapus jejak yang tersisa atas ombak, pasir, debu, juga aku dan RIni...
Dan seakan alam hanya punya berdua, aku dan Rini menatap matahri senja yang merah merona. Terasa begitu indah di mana momen-momen itu nantinya akan bercerita. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rini lebih menarik perhatianku dari matahari senja terbaik yang pernah kulihat, Rini lebih membuatku nyaman daripada belaian angit terlembut yang pernah kurasa, dan Rini jauh lebih nyata dari apa yang alam bisa berikan padaku. Aku memalingkan pandanganku sebentar dari momen terindah dalam hidup untuk mengambil setangkai mawar merah dari tas di belakangku. Kemudian sambil menatap matahari senja, kupanggil Rini perlahan...
‘Rin...’
Rini menoleh kepadaku, rambutnya yang digerai tertiup hembusan angin yang nakal, kemudian ia tersenyum. Dalam jawabnya, nada ingin tahu terlontarkan, ‘Ya?’
‘Ahh... Kita sudah lama saling mengenal... kita juga sahabat yang baik selama ini... dan aku yakin kamu pasti tahu kalau aku menyukaimu... tapi entah mengapa tidak sedikitpun aku tahu perasaanmu padaku...’ kataku sambil menatap matanya lekat-lekat.
‘Ah...’ Rini menundukkan wajahnya.
‘Tapi sekarang,’ aku menggenggam tangan Rini dan membiarkannya menggenggam bunga mawar yang kuberikan, ‘aku menyukaimu Rin, aku sayang sama kamu Rin, aku mencintaimu Rin... apakah kamu juga merasakan hal yang sama atau...’
Rini mencegah aku berbicara dengan satu jari telunjuknya di bibirku. Pelan-pelan Rini mengembalikan bunga mawar itu ke dalam genggaman tanganku. Ia menggenggam tanganku erat... Tak lama kemudian Ia menggeleng perlahan, sambil air matanya menetes menuruni pipinya.
Ah, aku menatap Rini setengah tidak percaya... detik demi detik berlalu saat aku tatap Rini yang tertunduk diam. Hingga matahari buat kami bercahaya merah, aku masih terdiam tak percaya.
‘Maafkan aku Fi...’
Aku genggam tangan Rini, ku tatap wajahnya lekat-lekat, ‘Kenapa Rin...?’
‘Aku... bukan maksudku untuk menolak cintamu, Fi... hanya saja... aku ngga bisa...’
Setelah berkata demikian, Rini berdiri sembari terisak dan akhirnya melangkah menjauh. Meninggalkan aku yang termenung sendirian hingga habis senja dan gelap malam. Aku ingin mengejar Rini dan menahannya untuk menjauh, namun raga ini seakan tertahan...
Maka Aku berganti menatap bintang pertama yang muncul. Aku begitu sedih hingga tak bisa menangis, begitu kecewa hingga berteriak tak bersuara. Semuanya terasa begitu sempurna hingga sesaat lalu. Namun kini semua berubah seperi alam yang merubah cintaku yang secerah senja ke serpihan hatiku yang seperti bintang di malam hari.
Ah... pandanganku mulai kabur... air mata entah darimana menetes sedih. Kecewaku kini tak tertahan lagi. Di tepian itu aku meringkuk sedih. Dan malam terus menggelap hingga aku tenggelam di dalamnya...
Keesokan harinya dan hari-hari setelahnya tak pernah sama lagi. Aku yang tenggelam dengan kekecewaanku menutup diri dari Rini. Tak lagi aku dan Rini dapat bersenda gurau. Tak lagi aku dan Rini daat berbagi dan tertawa bersama. Namun perasaan sakit ini seperti aku nikmati, walau terkadang air mata dan rasa kecewa bergantian menyapa.
Aku tak lagi mengirim sms dan menelpon Rini, bahkan terkadang aku tak membalas pesannya. Rini juga tak lagi kunjung merepotkan dirinya untuk menghubungiku. Persahabatan kami rusak, atau tepatnya aku yang merusak persahabatan kami. Memang benar tiang penyangga persahabatan antara laki-laki dan perempuan hanya seujung rambut. Saat salah satu dari mereka memiliki perasaan cinta ada yang lain, batas itu akan terlewati. Entah persahabatan itu akan berlanjut menjadi hubungan cinta, berakhir, ataupun berlanjut seperti biasa. Tak akan ada yang pernah tahu...
Maka hari-hariku kulewati dengan sunyi.
Aku kehilangan Rini dalam hidupku. Rini yang seolah membuat duniaku terus berputar. Rini yang seolah membuat semangatku tetap menyala. Rini yang seolah membuat jenuhku hilang ke dalam hampa. Rini yang membuat semua duniaku terpusat padanya.
Kini Rini telah hilang dari semua itu... hanya tinggal aku yang berdiri sendiri menatap senja. Dan ketika Rini tak ada di sampingku, kurasakan, senja tak seindah biasanya...
***
Saat itu telah dua bulan aku dan Rini menjauh. Aku mulai belajar hidup tanpa dirinya walau terkadang aku merindukan dan membutuhkannya. Dan ketika saat itu tiba, aku belajar untuk bertahan dan tetap tegar menjalani semuanya.
Namun hari itu perasaan rindu ku pada Rini melebihi hari-hari sebelumnya. Berkali-kali aku ingin mengirim pesan pada Rini, namun berkali-kali pula aku menekan tombol ‘cancel’ di handphone ku. Berkali-kali aku ingin menelepon Rini, namun berkali-kali pula aku menekan tombol merah di handphone ku sebelum telepon tersambung.
Dan siang itu telepon dari Ibu Rini seakan mengguncang duniaku.
***
Dan aku pun telah berada di kamar rumah sakit... di sebelah Rini yang masih tak sadarkan diri. Aku duduk sambil berurai air mata, menyesali kebodohanku selama ini. Air mata itu membasahi seprai Rini. Berkali-kali aku genggam tangannya yang diinfus. Berkali-kali aku berharap ia membuka matanya dan mengatakan sesuatu padaku. Berkali-kali aku berharap akan datang keajaiban agar waktu dapat kuputar kembai dan aku bisa mengerti sahabatku sejak dulu.
Dan di tengah keputus asaan itu Rini membuka matanya dan balas menggenggam tanganku. Aku terlonjak kaget dan segera mencondongkan wajahku ke tubuh Rini yang terkulai lemah. Aku menggenggam tangannya, berucap satu dua patah kata. Namun di tatap mata Rini yang lemah aku bisa merasakan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu. Maka aku pun diam dan menatap Rini lekat-lekat, menunggu...
Dan ketika akhirnya ia bicara...
‘Maafkan aku, Fi... Sesungguhnya aku sangat mencintai kamu... Ingin aku memelukmu dan menyambut cintamu sore itu...
Namun aku takut diri ini akan melukaimu, membuatmu tersakiti atas kehilangan... Aku tak ingin melhatmu bersedih dan menangis di saat terakhirku... Karena aku tahu aku sudah tak akan lama lagi bertahan...
Penyakit ini menggerogotiku sejak dulu. Aku selalu berusaha tersenyum agar kamu tersenyum. Aku selalu berusaha tertawa agar kamu tertawa. Memilikimu di dalam hidupku adahal hal paling membahagiakan. Karena aku cinta sama kamu, Fi...
Sebelumnya, Aku ingin kamu melupakanku dan cintamu padaku, agar kamu tak bersedih saat aku pergi... aku pun berharap demikian sebaliknya... tapi hati ini terlalu jujur Fi... aku cinta sama kamu...
Keadaan membuatku begitu takut menerima cintamu... percayalah Fi, cinta tak harus memiliki... walau terkadang sakit, terkadang kecewa... kita sama...
Walau hanya ini kenangan yang kita miliki, cinta akan tetap ada... di hatiku, di hati kamu,Fi...’
Aaah...! Air mata segera mengalir dan teriakan penyesalan menggema dalam hati... Seharusnya aku tahu Rini tercintaku sedang sakit! Seharusnya aku tahu Rini tercintaku sedang menderita! Dan di masna aku saat ia membutuhkanku melewati masa-masa sulit!?
Aku menangis sejadinya... aku genggam tangan itu dengan penuh kasih sayang. Aku keluarkan semua perasaanku padanya. Aku berharap ia tahu, aku menyesal, menyesal sekali. selama dua bulan sisa hidupnya aku tak bisa menemani dirinya, selama dua bulan masa hidupnya aku biarkan keegoisanku menyakitinya. Tak bisa kutumpahkan semua dalam kata-kata, tak bisa kutumpahkan semua dalam tulisan... aku cinta kamu Rini... hanya itu yang terus menerus ku katakan di sela-sela kisahku. Aku ucapkan maaf tiada henti, menyesali betapa bodohnya aku.
Di akhir hari itu... aku mencium Rini dengan semua perasaan yang kupunya. Aku peluk dia dan berjanji akan terus berada di sisinya.
Setelah hari itu, setiap hari aku menemanni Rini, merawatnya, menyuapinya, menemaninya tidur, dan menikmati saat-saat tertawa dan bercanda. Dengan semua cerita atas kenangan akan persahabatan kami. Dan dengan ucapan ‘Aku cinta kamu, Rin...’ setiap pagi, dan ‘Selamat tidur sayang...’ dengan kecupan di dahi setiap malam. Saat-saat terindah dalam hidup ku, dan mungkin Rini...
***
Seminggu kemudian Rini koma. Dua hari kemudian Rini meninggal. Tanpa kata-kata terakhir, Rini meninggalkanku dalam kebisuan. Keinginan hati untuk mendengar suaranya, melihat senyumnya, untuk yang terahir kalinya lenyap sudah.
Aku menghadiri pemakamannya di tengah hujan deras. Seakan alam tahu aku menangis. Alam sembunyikan air mataku...
Aku bawa mawar merah yang tidak Rini terima di senja itu. Dengan sepenuh cinta aku letakkan mawar itu di depan nisannya. Aku belai lembut nisan itu dan aku berdoa untuknya. Tidak juga selembar sajak terindah dapat ku tulis untuknya, tidak juga sebuah lagu terindah dapat ku ciptakan untuknya.
Namun aku yakin, ketika cinta dalam hati terus berkata, ketika cinta dalam hati masih bisa merasa, ketika cinta dalam hati masih ada... Rini akan selalu hidup di hatiku. Rini akan selalu ada di sisiku. Karena kenangan akan aku dan Rini adalah semua yang tersisa dari dirinya.
Dan hari ini pun aku menatap matahari senja. Matahari senja yang persis seperti saat aku mengatakan cinta pada Rini. Juga masih dengan cintaku yang sama, cinta yang tak pernah berkurang selama tiga tahun ini... Yang akhirnya aku tahu bahwa ia juga mencintaiku...
Dalam diam aku berdoa untuk Rini. Dan hatiku berkata pada senja yang menghilang ke horizon lautan jingga yang tak terbatas.
‘Rini... Walau cinta tak bisa memiliki... dan hampa terasa dalam hati... Aku yakin...bahwa selama cinta itu masih ada, dirimu tak akan pernah mati dalam hatiku...
Dan tiap matahari senja yang kulihat, akan mengingatkan aku akan cintaku padamu...’
No comments:
Post a Comment